KINOYSAN: Love Banget Sama Menulis

ARI's posts with tag: cerminan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryHATI-HATI DENGAN NAMA...!Nov 19, '08 4:15 AM
for everyone

Pernahkah kita mikirin kenapa orang tua kita ngasih nama seperti nama yang kita miliki? Mereka punya harapan dan doa. Apapun nama yang diberikan orang tua kita selalu punya makna yang baik dan doa yang baik pula.

Terus... zaman berkembang, era teknologi makin maju. Rasanya sekarang ini tiap orang pasti punya id e-mail, komunitas maya (milis), blog, web. Pernahkah kita ngamatin nama-nama yang bermunculan dari banyak sarana itu?

Saya sering menemukan nama yang aneh-aneh di dunia maya. Nama-nama yang bikin saya heran. Ada lho yang bikin id e-mail ’otaklemah’, ’akarlapuk’, ’nightmare’, ’orangjelek’, ’ganjenalways’, dll. Bahkan banyak pula blog-blog yang namanya nggak referent sesuatu yang bagus. Secara nggak sadar itu doa dan akan bikin sugesti lho!

Misalnya aja dengan nama otak lemah, berarti dia mengindikasikan dirinya berotak lemah. Lalu bagaimana orang lain akan memberikan pekerjaan besar kepadanya, misalnya saja?! Nightmare, bukankah itu bisa jadi sugesti hidupnya akan selalu dipenuhi dengan mimpi buruk? Kasihan sekali... hidup dengan ajaran agama yang lurus untuk berbahagia lahir batin dunia akhirat, kok malah milih hidup dalam mimpi buruk?

Saya nggak tahu, gimana mereka bisa pakai nama yang kayak gitu. Kebebasan memang hak setiap orang. Termasuk memilih nama. Tapi alangkah baiknya kalau nama yang kita bawa, yang kita kenalkan ke khalayak luas itu juga nama yang baik. Apalagi nama pena yang bisa kita cipta sendiri ya....

Gimanapun ini cuman uneg-uneg pribadi yang ngerasa heran kok banyak sekali nama-nama nggak jelas dan nggak bagus. Bukannya kita ini sebagai makhluk Tuhan yang suka keindahan dan kebaikan? Kenapa malah mencipta yang buruk-buruk, meskipun itu hanya sebuah nama?

Boleh jadi Shakespeare bilang apalah arti sebuah nama. Tapi menurut saya, nama itu penting. Dengan nama kita jadi mudah dikenali. Nama jadi pembeda kita dengan orang lain. Nama juga bisa jadi kekuatan kita kalau kita menempanya dengan prestasi. Nama bisa jadi jaminan untuk produk-produk tertentu.

Bukankah Allah juga telah melarang kita untuk memanggil orang lain dengan sebutan yang buruk? Itu artinya larangan juga bagi kita untuk punya nama yang buruk. Ada ayatnya kok, buka aja QS Al Hujurat ayat 11: ”..... Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.....”

Oke, Sobat... Mudah-mudahan abis baca ini banyak yang ngerubah nama yang kurang bagus jadi nama yang bagus.... ingatlah, nama itu sebuah doa, sebuah harapan....

Kinoysan


Blog EntryLEBARAN: BALADA KETUPAT OPOROct 4, '08 6:53 AM
for everyone

 

Idul fitri nggak di tengah-tengah keluarga, rasanya pasti sedih. Saya berusaha menganggap masalah itu tak perlu dibesar-besarkan. Meskipun pas malam takbiran, huhuhu, nangis juga rasanya.

Di hari lebaran, saya tetap ikut gembira seperti orang lainnya. Sekitar jam sebelasan, saya makan ketupat opor komplet. Tak ada yang aneh dari makanan itu. Tapi tak lama.... kepala saya sakit banget, seperti ditusuk-tusuk dari segala sisi. Kemudian disusul dengan rasa mual yang luar biasa, badan tiba-tiba berkeringat dingin.

Rasa mual sudah tak tertahankan dan muntah-muntah tak bisa saya hindari. Keluar semua apa yang saya makan dengan sakit tak terkira. Sampai beberapa jam kemudian saya masih harus bolak-balik kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut. Saya lemas lunglai dan sepertinya seluruh energi lenyap tak tersisa.

Yang terbayang di benak saya, jangan-jangan saya mau mati hari itu. Dan entah sudah berapa banyak dzikir saya ucapkan. Saya ketakutan. Oh Allah, teringat dosa-dosa dan rasanya saya belum siap mati. Dengan sisa energi yang ada saya telepon dokter. Keracunan makanan. Itu analisis dokter dan dengan sedikit keras tegas, dokter langganan saya bilang:

Ari harusnya selektif. Kan sudah tahu perutnya sensitif! Orang lain nggak apa-apa, buat Ari bisa jadi masalah. Minum teh banyak-banyak untuk penetral racun. Kalau sejam masih kayak gitu, telepon saya lagi.”

Saya nggak tahu, bagian makanan mana yang beracun karena makanan di dalam opor jelas campur aduk. Dengan menahan rasa mual serta sakit kepala, saya minum teh. Masih bolak-balik muntah sampai akhirnya tidak muntah lagi. Saya tidur dalam kelemasan.

Sejam lebih saya tertidur. Terbangun sudah lebih enak di badan. Baru inget lagi ini lebaran. Mengecek handphone yang sudah banyak banget sms masuk. Mencoba membalas satu persatu dan mengirim kepada yang lain.

Sampai malem saya dipaksa merenung apa yang sebenarnya terjadi. Sudah lebih dari satu setengah tahun, saya tak pernah sakit. Bahkan flu pun hanya nempel sebentar, lalu hilang setelah saya tidur. Itu pasti kecapekan belaka. Tahu-tahu sakit yang begitu seram... wah...

Sepertinya badan dan pikiran menuntut istirahat. Beberapa hari sebelumnya, energi saya benar-benar terkuras untuk proyek yang belum kelar. Sebulan di ramadan juga begitu banyak kegiatan. Mungkin kalau nggak sakit, abis silaturahmi saya akan tetap kerja. Ternyata hari itu, otak saya benar-benar disuruh istirahat dan nggak boleh berpikir.

Keesokan harinya, saya masih terus takjub mengingat kejadian itu. Sebelumnya saya tak apa-apa, sehat walafiat, mendadak sakit seolah tak akan sembuh. Lalu begitu cepat pula Allah menyembuhkannya; tak tersisa kelemasan dan ketakutan saya sebelumnya.

Mau tak mau ini lebih mengingatkan saya akan kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti, tapi seringkali kita lupa dan tak mempedulikannya. Seperti itulah kematian. Selalu mendadak. Tak pernah permisi dan tak bisa kita hindari. Bisa jadi kematian tak didahului oleh sakit apapun. Bisa jadi pula kita hari ini sehat walafiat, tapi esok sudah pergi menghadap sang Khalik.

Di bulan Syawal, bulan kemenangan, mudah-mudahan dengan gemblengan ketakwaan dan ketaatan selama Ramadan, membuat diri semakin bertambah iman kepada Allah. Semakin bertambah ingat pada kematian yang datang tanpa permisi dan tak bisa dihindari. Mari kita berlomba-lomba menuju kebaikan untuk bekal pada kehidupan abadi.

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. MOHON MAAF LAHIR BATIN. SEMOGA KITA MENJADI INSAN YANG LEBIH BAIK MULAI SAAT INI. MUDAH-MUDAHAN PULA KITA MASIH DIBERI KESEMPATAN BERTEMU RAMADAN TAHUN DEPAN. ALLAHUMMA AMIN.


KINOYSAN


Blog EntryTERNYATA OH TERNYATA....Sep 11, '08 5:43 AM
for everyone

Masing-masing kita selalu punya rencana dan tujuan dalam hidup. Termasuk urusan menikah. Dan saya termasuk orang yang pengen nikah muda. Dari umur 20 tahun saya sudah pengen menikah, dengan harapan kalau beranjak tua anak-anak sudah besar. Namun toh rencana sebagus apapun, Tuhan selalu punya skenario yang lebih indah. 

Hari Selasa, 9 September saya berbagi kisah penulisan dengan teman-teman di Ponpes Darul Ulum, Lido, Bogor dengan penyelenggara Penerbit Grasindo, Jakarta. Pas mau balik, saya ’diculik’ oleh tim marketing penerbit dari divisi Bandung untuk ikut serta bersama mereka. Ada acara sharing penulisan di salah satu sekolah di Bandung; kembali ke Jakarta dulu jelas nggak efektif.

Semula saya nggak mau, tapi dibujuk sama editor saya Mbak Mira yang sudah total banget urusin buku-buku saya, akhirnya saya ngikut juga. Sepanjang jalan sih, fun dengan orang2 yang kreatif dan banyak ide serta mau berbagi cerita.

Alhasil, malemnya saya nginep di rumah penulis Mbak Iin di Bandung. Biasanya begitu lelah dan capek, di manapun tempat yang bersih, nyaman, dan tenang saya akan langsung tidur. Tapi, malam itu bukannya tidur atau begadang menulis, tapi saya nggak bisa tidur. Bukan karena tempatnya tapi karena berulang kali anak sulung Mbak Iin yang baru berusia 3 bulan berulang kali bangun dan menangis kenceng banget. Wah.... mungkin si baby ini kecapekan karena mesti ngikutin mamanya ke Bogor dan nggak bisa tidur di kasur yang nyaman sepanjang perjalanan.....

Saat itu, yang saya pikirkan adalah keinginan saya menikah; yang karena usia sering jadi urusan ributnya orang2 di sekitar saya. Sungguh, diam-diam saya mikir banyak malam itu. Melihat Mbak Iin dan suaminya harus bergantian urusin si bayi nggak juga cepet mau diem dan tidur---entah kenapa, rasanya saya tahu bahwa saya ternyata belum siap untuk hal-hal seperti itu. Saya belum sanggup ’terganggu’ dengan rutinitas yang melelahkan itu. Menikah, total harus kompromi dengan pihak lain, urus anak yang malam2 bisa begitu bawelnya... Ya Allah... Meskipun banyak orang bilang, secapek apapun bekerja, saat pulang dan urus anak akan bikin capek ilang.... Tapi kok....

Saya merasa nginep di rumah Mbak Iin itu telah membuka jawaban atas pertanyaan panjang yang sempat menghantui saya. Umur sudah cukup, keinginan menikah juga ada, saya juga nggak merasa ada hal buruk yang jadi ciri negatif, dan ada begitu banyak orang berbaik kasih untuk mencarikan jodoh saya, tapi kok ya belum cocok juga.

Kenapa? Apa yang salah? Apa yang kurang? Apa yang nggak bener? Dll. Yach, jawabannya karena ternyata saya belum siap. Bisa jadi orang telah melihat sisi luar saya, termasuk sisi umur yang mestinya sudah lebih dari dewasa, tapi sungguh Allah Maha Tahu apa yang terbaik. Kadang kita terlalu merasa tahu diri, padahal sebenarnya kita tak tahu apa-apa bahkan tentang diri kita sendiri.

Syukurlah, sejak malam itu saya begitu lega dan bertekad menimba ilmu ’lain’ yang selama ini tak pernah saya pikirkan. Oooh.... Tuhan, siapa sangka saya akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya gara-gara ’diculik’ sama marketingnya penerbit....

Thanks buat Grasindo, Mbak Mira dkk.
Thanks buat marketing team Grasindo di Bandung, Mas Dani dkk. Lain kali kabar2 kalau bikin acara di Bandung jangan pakai acara ‘penculikan’.
Thanks buat Mbak Iin dan keluarganya.

 
Kinoysan

 

 

 


Blog EntryLUASNYA KASIH SAYANG ALLAHJul 19, '08 11:57 PM
for everyone

Dzun Nun Al Mishri bercerita: 

Saya keluar dari kota Mesir (Kairo) dan untuk beberapa saat berjalan di tengah padang pasir. Saya lalu berjalan di tepi sungai Nil dan melihat ke air.

Tiba-tiba saya melihat seekor kalajengking berjalan cepat. Saya bergumam, ”Ia hendak ke mana?”

Tatkala sampai di tepi sungai, muncullah dari dalam air seekor katak dan kalajengking itu segera naik ke punggung katak yang berenang ke seberang sungai. Saya bergumam lagi, ”Pasti ada rahasia yang tersembunyi.”

Saya segera menceburkan diri ke sungai dan mengikuti katak itu. Saya sampai ke seberang dan saya lihat katak itu juga telah berada di darat. Kalajengking itu turun dari punggungnya. Saya terus mengikuti ke mana kalajengking berjalan.

Akhirnya, saya sampai di sebuah pohon dan saya melihat seorang lelaki yang tertidur di bawah pohon. Sementara di dekatnya ada seekor ular hitam yang hendak menggigitnya. Dengan segera si kalajengking itu menyengat punggung si ular, yang kemudian menggeliat dan mati. Lalu, kalajengkin itu berlari ke tepi sungai dan duduk di atas punggung katak itu, menyeberangi sungai kembali.

Saya tertegun dan bergumam, ”Pasti lelaki ini adalah salah seorang kekasih Allah.”

Saat itu, saya hendak mencium kakinya. Tapi setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata lelaki itu dalam keadaan mabuk berat. Saya bertambah heran. Saya menunggunya hingga pemuda itu sadar.

Si pemuda itu pun sadar dan melihat saya ada di sampingnya. Dia heran dan bertanya kepada saya, ”Hai orang mulia, kenapa kamu datang dan memuliakan si pendosa ini?”

Saya menjawab, ”Janganlah kamu berkata seperti itu! Perhatikan ular ini!”

Setelah melihat ular itu, dia memukulkan tangan ke kepalanya dan bertanya, ”Apa yang sudah terjadi?”

Lalu saya menceritakan kisah kalajengking, katak, dan ular itu. Setelah sadar bahwa itu semua merupakan bukti luasnya kasih sayang Allah kepada dirinya, pemuda itu segera menghadapkan wajahnya ke langit dan berseru, ”Wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, jika Engkau sebegini Kasih dan Sayang-Mu kepada pemabuk seperti ini, lalu bagaimana Kasih dan Sayang-Mu kepada para kekasih-Mu?”

Lalu pemuda itu segera bangkit dan menuju sungai Nil. Dia lalu mandi dan segera ke tempat semula untuk beribadah. Akhirnya dia terus sibuk beribadah dan memiliki keistimewaan. Setiap kali dia berdoa untuk orang yang menderita penyakit apa saja, maka penyakit itu pasti sembuh.
 

Sumber: 50 Kisah Bermakna, Ali Sadaqat, Penerbit Qarina, hlm. 357

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 
Sungguh Allah Maha Luas Kasih Sayang-Nya. Janganlah kita berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah. Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki tanpa kecuali, bahkan orang-orang yang berdosa sampai batas yang ditentukan apakah ia tetap dalam gelimangan dosa ataukah ia bertaubat.

Kisah di atas, mungkin bisa jadi lain akhirnya seandainya pemuda pemabuk itu tidak bertaubat dan memilih mengikuti hawa nafsunya. Semoga Allah selalu melindungi kita dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Amin.

”Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat. Maka tidakkah kamu mau berhenti?”

(QS Al Ma’idah ayat 91)

 
Semoga bermanfaat,

Kinoysan

 


Blog EntryYA RASULULLAH, IZINKAN SAYA BERZINA!Jun 25, '08 12:54 AM
for everyone

Kisah ini adalah pelajaran penuh hikmah bagi siapa saja. Sejak kecil, sebagai muslim saya sudah kagum pada pribadi Muhammad SAW yang sering saya dengar dari almarhum ayah saya dan juga para guru ngaji. Lebih-lebih ketika saya sekolah dan guru agama saya pandai mendongeng tentang kisah-kisah nabi. Muhammad SAW memiliki banyak keunggulan dan keutamaan di antara nabi-nabi lainnya. 

Sepanjang umur kemudian, ketika saya mulai membaca sejarah, riwayat kehidupan, hadis, sampai Al Quran tentang kemuliaan kepribadian Rasulullah SAW, rasanya tambah banyak kekaguman saya kepada sosok mulia ini. Apalagi Islam mengajarkan banyaknya keutamaan dan pahala dengan mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunahnya dan membaca sholawat kepadanya.

Teladan yang diberikan sepertinya tak pernah habis untuk mengahadapi setiap persoalan hidup. Bahkan untuk urusan mendidik orang seperti yang dihadapi kali ini pun, Rasulullah SAW telah memberi contoh penyelesaian yang akhirnya ditaati orang tanpa perlawanan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 
Pada suatu hari, seorang pemuda datang menghadap Rasulullah SAW dan dengan rasa malu dia berkata, ”Ya Rasulullah, bisakah Anda mengizinkan saya berzina?”

Mendengar ucapan ini, orang-orang yang ada di sekeliling Rasulullah SAW berteriak dan memprotes pemuda itu. Sudah jelas-jelas dosa, tapi malah minta izin!

Tapi ternyata Rasulullah SAW tetap tenang dan lembut, lalu bertanya kepada pemuda itu, ”Apakah engkau rela jika ada seseorang yang melakukan perbuatan itu dengan ibumu?”

”Jiwaku sebagai tebusan Anda, tidak ya Rasulullah!” jawab si pemuda.

Rasulullah SAW bersabda, ”Begitu juga masyarakat. Tidak rela jika ada orang yang berbuat semacam itu kepada ibu mereka. Sekarang, katakanlah, apakah engkau rela jika ada orang berbuat demikian kepada putrimu?”

”Tidak ya Rasulullah,” jawab si pemuda.

Rasulullah SAW bersabda, ”Begitu juga dengan masyarakat. Tidak rela jika ada orang yang berbuat demikian kepada putri mereka.”

Rasulullah SAW kembali bertanya, ”Apakah engkau rela jika ada orang yang berbuat semacam itu kepada saudara perempuanmu?”

”Tidak ya Rasulullah,” jawab si pemuda.

Lalu si pemuda itu merasa menyesal atas pertanyaan yang telah diajukannya. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan sucinya ke dada si pemuda dan mendoakannya seraya mengucapkan, ”Ya Allah, sucikanlah hatinya. Ampunilah dosanya. Jagalah auratnya dari perbuatan keji!”

Setelah didoakan, pemuda itu menjadi berubah dan dia memiliki keyakinan bahwa tidak ada suatu perbuatan yang lebih keji daripada berzina.

Sumber: 50 Kisah Bermakna, Ali Sadaqat, Penerbit Qarina-Jakarta

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =  =



Blog EntryULANG TAHUN PENERBIT ANDIMay 7, '08 4:19 AM
for everyone
Saya mengenal penerbit Andi sekitar 2 tahun yang lalu ketika launching buku HOT CHOCOLATE di UGM, Jogja; November 2006. Saya cukup heran sebenarnya ketika tahu PENERBIT ANDI, termasuk sponsor acara itu. Setahu saya Penerbit Andi kan nerbitin buku-buku komputer dan IT. Terus saya juga nggak punya buku di sana. Tapi nggak pa-palah, siapa tahu kelak saya bisa kerja sama dengan mereka. Kalau nggak bisa nulis buku komputer sama IT, mungkin di bidang lainnya yang berkaitan dengan penulisan. Ya, saya selalu berpikir bahwa penulisan itu nggak cuman menulis buku fiksi dan nggak cuman untuk urusan perbukuan. 

Kesan saya waktu itu, penerbitnya baik. Cuman sayang saja waktu itu nggak bisa ngobrol langsung karena acara saya di belakang, penerbit di depan dan pas saya selesai acara, Mbak Desi-nya saya cari-cari sudah nggak kelihatan. Telponnya nggak punya pula. Setelah cari tahu ke panitia baru deh telpon beberapa waktu dan janji kalau ada kesempatan akan saling ketemu.

Selang beberapa waktu, saya tawarin buku fiksi dan mereka merespon dengan baik. Ternyata Penerbit Andi mau bikin diversifikasi produk dengan nerbitin buku fiksi. Pas Penerbit Andi ada acara di Jakarta sekitar Pebruari 2007 mampir ketemu sama saya (Mbak Desi, Mbak Mei, Pak Edi, Mas Anggoro). Wah, saya seneng banget saat ngebahas buku saya mau terbit. Ketemu muka dengan orang-orang yang punya wawasan luas dan asyik diajak ngomong, adalah hal yang nyenengin banget.  Sejak itu buku saya terbit di Penerbit Andi; KING KONG JATUH CINTA untuk fiksi dan nonfiksi JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG, KOK!, JADI PENULIS SKENARIO? GAMPANG, KOK!

Yang saya salut dari penerbit ini, sebagai pelaku baru dalam dunia fiksi, konsentrasinya yang tinggi untuk membuatnya eksis dan dikenal sebagai pelaku fiksi. Pengurusannya juga yang baik pada penulis. Di kwartal terakhir tahun 2007 saya banyak terlibat dengan pelatihan penulisan yang diadakan oleh Penerbit Andi.

Waktu saya diminta jadi juri lomba penulisan fiksi dari Penerbit Andi, saya sebenarnya masih mikir bisa nggak ya saya jadi juri. Habisnya selama ini kan selalu dinilai orang; biasanya kan saya yang ngikut lomba dan alhamdulillah banyak yang nggak menang. HahahaJ makanya kalau menang saya anggap keberuntungan. Seperti waktu jadi juara dua penulisan tingkat mahasiswa tahun 1999 dan mendapat anugerah kebudayaan 2006; ini yang surprise kok bisa ya. Padahal kan banyak penulis buku anak yang lebih kompeten dan karyanya bertebaran di berbagai toko buku.

Tapi sudahlah, saya selalu berpikir positif dan menerima setiap kesempatan yang saya pikir saya bisa untuk menjalaninya. Kan saya pernah lama jadi editor buku, jadi bisa dong nilai naskah fiksi. Sebenarnya grogi juga waktu tahu sesama jurinya itu Mb Fira Basuki dan Mas Fx Rudi Gunawan. Waduh, orang top semua nih. Berarti nanti kalau pas ngebaca dan nilai saya mesti sungguh-sungguh dan catet isinya apa. Ntar kalau diskusi sama mereka jangan-jangan saya nggak nyambung.

Begitulah, proses pembacaan naskah itu saya lakuin sungguh-sungguh. Dan ternyata memang semua juri hasil penilaiannya beda-beda. Akhirnya hasil penilaian itu yang dirata-rata sebagai penilaian akhir. Dan alhasil, menurut kita ternyata nggak ada yang juara 1,2. Waktu saya ditanyain soal juara kenapa nggak ada, apa itu akal-akalan dari seorang penulis, saya bilang tidak. Memang nggak ada penulis yang memenuhi standar minimal untuk jadi juara 1,2.

Ternyata pas penerimaan hadiah (27 April 2008) eh, Mb Fira-nya nggak bisa dateng. Saya masih celingak-celinguk nyariin Mas Gunawan tapi karena banyaknya undangan saya nggak tahu di mana beliaunya berada. Baru pas acara makan malam kita bisa omong panjang lebar soal penulisan; sempat ketemu juga sama Miranda (halo, Mir, ternyata kamu itu adik kelas saya). Surprise aja ada orang bilang saya nggak kenal Ari Wulandari, tapi kalau KINOYSAN tahu banget, Mbak. Ternyata orang yang sama toh. Lho, piye to?

Dari pembicaraan dengan Mas Rudi, saya mendapatkan beberapa point pembelajaran dalam penulisan:

  1. Orientasi penulis harus terus mengikuti perkembangan zaman.
  2. Saat menulis, menulislah dengan idealisme; yang terbaik, yang paling beda, dan nggak usah ngikuti aturan.
  3. Ketika idealisme secara terbuka tidak bisa diterima media, harus dipulas seperti ’industri’ tapi tetap idealis agar bisa survive jadi penulis.
  4. Perjalanan membuat orang makin kaya akan bahan tulisan.

Meskipun masih rada-rada bingung juga, tapi point keempat sih saya setuju banget. Kita nggak bisa lama ketemu karena Mas Gunawan mesti cepet pergi karena urusan lain.

Sedangkan saya masih tinggal di Jogja untuk mengisi workshop penulisan fiksi dan penulisan skenario; juga urusan-urusan lain di Jogja.

 Dari acara itu, saya jadi tahu rangkaian kegiatan workshop yang dilakukan Penerbit Andi sejak akhir kwartal 2007 itu semuanya dalam rangkaian ULANG TAHUN PENERBIT ANDI yang jatuh pada 4 Januari dengan puncak acara di bulan April 2008; katanya sekaligus dibarengkan dengan ulang tahun owner-nya (suami istri pemilik Penerbit Andi berulang tahun di bulan April). Waduh, acara ulang tahunnya yang ke-28 itu rasanya memang besar-besaran. Banyak lomba, banyak acara, banyak kegiatan, banyak urusan.

Wiih, saya seneng dan bersyukur banget bisa ikut terlibat di sana. Banyak teman, banyak kenalan baru, banyak wawasan baru, difasilitasi dan diurusi dengan sangat baik (terima kasih banyak untuk MBAK DESI, MBAK MEI, MBAK DESTU, MBAK HESTI, MAS EKO, dan semua kru serta teman di Penerbit Andi yang nggak bisa disebutin satu per satu di tempat ini), ketemu sama orang-orang penerbitan dengan bidang-bidang berbeda yang bikin mata wawasan saya lebih terbuka.

PENULISAN ADALAH DUNIA DINAMIS DAN PUNYA MASA DEPAN.

Yang terkesan buat saya adalah saat mendengar secara singkat riwayat perjalanan Penerbit Andi, mulai dari kecil, kemudian membesar, sempat drop dan harus mem-PHK hampir 300-an karyawan, lalu bangkit lagi dan menjadi salah satu raksasa penerbit di Jogja. Saya juga sempat ketemu langsung dengan owner-nya dan sempat berbincang-bincang beberapa hal. Seperti ciri khas orang berhasil di mana-mana yang pernah saya temui, selalu ada sikap rendah hati, ramah, dan terbuka untuk urusan kemajuan. Ya, biasanya kesan seperti itu yang selalu saya temukan pada orang-orang sukses, meskipun mereka baru mengenal orang dan berada di tempat yang berbeda.

Mudah-mudahan saja dengan ulang tahunnya itu Penerbit Andi makin eksis dan bersinar dan makin banyak juga penulis-penulis baru yang dilahirkan oleh Penerbit Andi. Bagi yang pengen nerbitin naskahnya di Penerbit Andi, jangan ragu-ragu mengirimkannya.

Selama ini saya di sana seperti juga di penerbit-penerbit lainnya yang menerbitkan buku-buku saya, alhamdulillah mereka selalu mengurusi buku-buku saya dengan baik dan memperlakukan saya juga dengan baik.

Mudah-mudahan kerja sama yang baik itu terus bisa berlangsung dalam jangka panjang dan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Amin.

 

Kinoysan

 

 

 



Blog EntryREZEKI YANG PALING BAIKApr 1, '08 3:08 AM
for everyone

Dari kecil, saya selalu berambisi untuk menjadi orang kaya. Sebagai anak sulung dengan 5 orang adik yang ikut ngeliat bagaimana kekurangan itu menyedihkan, membuat keinginan itu seperti mengkristal dalam hati saya.

Sejak kecil pula, saya sudah terbiasa kerja keras di luar waktu belajar dan sekolah saya, dengan kapasitas yang bisa saya lakukan sesuai umur saya, demi uang. Rasanya dagang telah menjadi kebiasaan saya saat itu; saya ingat pernah dagang buku, kartu nama, pernik-pernik, makanan, baju, dll. kepada teman-teman sekolah atau siapa saja yang saya kenal. Pernah juga saya kerja magang di kantor atau perusahaan secara paruh waktu, demi uang.

Tanpa saya sadari, menghitung keuntungan berdagang atau kerja telah saya pegang sejak saya kecil. Filosofi uang yang banyak akan membereskan segala sesuatunya, mengendap dalam pikiran bawah sadar saya sejak belia dan kenal dengan perdagangan atau kerja.

Sampai saya kuliah, bekerja paroh waktu pun terus saya lakukan, termasuk menulis. Ketika itu motivasi saya nggak ada yang lain, kecuali uang. Karena memang kenyataannya tanpa uang, nggak ada sesuatu yang bisa berjalan. Meskipun uang bukan segala-galanya, tetapi dengan uang segala sesuatunya lebih mudah untuk diselesaikan.

Sampai saat saya bekerja pun; kerja keras, prestasi, dan uang, adalah hal yang saya percayai dan jadi filosofi saya. Jadi kalau kita bersedia bekerja keras, semampu yang kita lakukan, prestasi akan datang seiring kerja kita dan uang akan datang dengan sendirinya. Dan alhamdulillah memang itu yang terjadi pada saya.

Namun kemudian, dengan bertambahnya umur, bertambahnya kedewasaan dan juga kematangan berpikir, filosofi yang saya anut sejak kecil itu perlahan-lahan berubah.

Uang ternyata juga jadi sumber ketidakbahagiaan, sumber kita menjauhkan diri dari Sang Khalik, sumber pertengkaran dan menjauhkan silaturahmi antar saudara, sumber banyak masalah yang menyesakkan hati, sumber keresahan dan segala penyakit jiwa, seperti depresi, kikir, tamak, iri dengki, dll.

Kesadaran itu, meskipun cukup terlambat saya sadari, telah membuat filosofi dan cara pandang saya terhadap uang benar-benar berubah. Uang bukanlah semua unsur rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Rezeki adalah segala kebaikan yang diberikan pada kita oleh Allah SWT. Nikmat Allah SWT yang nggak akan bisa kita hitung, kalau kita mencoba menghitungnya, selain hanya pantas untuk kita syukuri atas semuanya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur. Amin.

Rezeki termasuk kesehatan lahir batin, keluarga yang baik dan rukun, teman-teman yang baik, kesempurnaan akal, ketenangan dan kedamaian, hati yang pasrah dan rida atas segala ketentuan Allah SWT, ilmu yang bermanfaat, kesabaran dan ketaatan memegang akidah, sampai pada nikmat iman dan Islam serta kemudahan beribadah, yang merupakan karunia terbesar yang mudah-mudahan menyelamatkan kita dari sulitnya masa berhisab di hari kiamat.

Setelah setahun ini saya meninggalkan pekerjaan tetap saya, saya mulai terbiasa dengan banyak hal yang serba nggak pasti; seperti berapa jumlah uang yang saya terima setiap bulan, berapa pekerjaan yang bisa saya selesaikan setiap bulan, dll.

Justru kondisi seperti itulah yang membuat saya menyadari satu hal yang berharga. Uang yang sedikit tapi mencukupi semua keperluan hidup kita, itu jauh lebih baik daripada uang yang banyak tapi menyibukkan diri kita kepada kelalaian; lalai menjaga diri dan kesehatan, lalai pada persaudaraan, lalai pada sedekah, lalai pada kebaikan sholat malam, lalai pada dzikir dan sholawat yang ringan tapi berpahala besar, lalai pada keutamaan sholat tepat waktu, dan kelalaian lain yang membuat kita jauh dari Allah SWT.

Sekarang, meskipun secara matematis uang yang saya miliki nggak sebanyak dan sepasti saat saya bekerja menetap, tapi alhamdulillah semuanya selalu mencukupi apa-apa yang saya perlukan. Selain itu, saya memperoleh banyak rezeki yang jauh lebih berharga dari uang; ilmu, persaudaraan, persahabatan yang tulus, ketenangan dan kedamaian, kesabaran yang lebih kuat, keyakinan yang menguat akan pertolongan Allah SWT di saat-saat semua jalan terasa buntu, kemudahan untuk beribadah, dll.

Banyak hal yang nggak saya dapatkan ketika saya bekerja di bawah tekanan yang membuat saya depresi. Yach, depresi penyebabnya ternyata juga salah satunya karena menjauh dari ajaran agama lantaran waktu, hati, jiwa, pikiran dan fisik kita yang terus menerus digunakan untuk mengurusi masalah duniawi. Ajaran agama jadi prioritas kesekian karena banyaknya urusan pekerjaan yang mesti diselesaikan; sebagai konsekuensi logis dari pembayaran uang yang banyak.

Rezeki yang paling baik bukanlah uang yang paling banyak yang kita miliki, tapi apa yang paling mencukupi semua kebutuhan atau keperluan kita dan sekaligus membuat kita selalu bersyukur pada Allah SWT.

Apa yang saya sadari itu ternyata sudah ada dalam ajaran sunah Nabi Muhammad SAW, yang baru saya tahu ketika saya sudah nggak kerja kantoran, punya lebih banyak waktu untuk belajar dan memperdalam ilmu-ilmu yang menarik hati saya. Ini saya kutipkan kisahnya, agar jadi cerminan dan teladan bagi siapa saja.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
Rasulullah SAW dan para sahabat sedang mengadakan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengurusi unta. Beliau meminta sebagian susu darinya.

Lelaki itu menjawab, ”Susu yang ada di perut unta khusus untuk sarapan orang-orang kabilah ini dan dua ember susu yang baru saya perah untuk makan malam mereka.”

Rasulullah SAW berdoa, ”Ya Allah perbanyaklah harta dan anak lelaki ini.”

Lalu beliau segera pergi meninggalkan tempat itu dan bertemu dengan pemelihara unta yang lain. Ia meminta susu darinya. Lelaki itu segera memerah susu untanya dan menuangkan semuanya ke bejana Rasulullah SAW dan menambahnya dengan seekor kambing.

”Sekarang hanya ini yang saya miliki. Jika Anda (Rasulullah SAW) mengizinkan, saya akan memberikan yang lebih dari ini,” kata lelaki tersebut.

Rasulullah SAW segera mengangkat tangan dan berdoa, ”Ya Allah, berikanlah rezeki kepada lelaki ini secukupnya.”

Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, Anda mendoakan orang yang menolak permintaan Anda (harta yang banyak) dan kami menyukai doa semacam itu. Tapi bagi orang yang memenuhi permintaan Anda, lalu Anda memohon kepada Allah rezeki yang secukupnya, maka dalam hal ini kami tidak menyukainya.”

Rasulullah SAW bersabda, ”Jumlah sedikit tetapi sesuai dengan keperluan, jauh lebih baik daripada harta melimpah yang menjadikan manusia menyibukkan diri dengan hartanya (itu).”

Kemudian Rasulullah SAW berdoa, ”Ya Allah, demi Muhammad dan keluarga Muhammad, karuniakanlah rezeki secukupnya.”

Dikutip dari 50 Kisah Bermakna hlm. 491, tulisan Ali Sadaqat, Penerbit Qarina, Jakarta.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
Sungguh, betapa sempurna ajaran Islam ini. ”JUMLAH SEDIKIT TETAPI SESUAI DENGAN KEPERLUAN, JAUH LEBIH BAIK DARIPADA HARTA MELIMPAH YANG MENJADIKAN MANUSIA MENYIBUKKAN DIRI DENGAN HARTANYA (ITU).”

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang menyibukkan diri dengan harta benda. Saya telah menemukan pelajaran penting itu, betapa harta membuat kita dinaungi banyak kesibukan yang menjauhkan kita dari urusan-urusan yang lebih penting (persiapan hidup setelah mati); membuat hati resah, kikir, dan selalu tidak pernah cukup, menghitung-hitung banyaknya keperluan (yang kadang-kadang untuk sesuatu yang belum pasti, sama persis seperti kisah lelaki pertama yang ditemui Rasulullah SAW).

Bukan berarti ini kita boleh bermalas-malasan dalam bekerja mencapai rezeki dan harus menjadi orang miskin. Tentu tidak. Karena islam juga mengajarkan teladan yang lain, ”Berusahalah untuk duniamu seolah-olah engkau tidak pernah mati (atau hidup seribu tahun), dan berusahalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati esok hari.”

Ini tentu sebuah konsepsi bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha menjadi kaya, tapi juga dibarengi dengan mencari kekayaan bekal menuju akhirat. Sementara sering kali kita lupa diri, mengejar harta dunia tanpa batas, tapi sering lalai akan harta yang harus kita kejar untuk kehidupan abadi.


Kinoysan

 


Blog EntryBULAN PERTAMA DI 2008Feb 1, '08 4:07 AM
for everyone

Ada beberapa hal yg membuat hati saya warna-warni selama sebulan di tahun 2008 ini.

 

Awal tahun, dalam perjalanan ke Jakarta, saya bertemu seseorang yang luar biasa menyenangkan, smart, dan sukses. Karirnya sebagai ibu rumah tangga mendampingi suaminya yang diplomat dan harus ke mana2, tak membuatnya merasa dibebani. Dia terlihat begitu ringan menjalani hidupnya, yang ternyata juga tak semulus yang orang lihat di masa sekarang.

 

Satu pesan yang sempat diberikan pada saya, sederhana, ‘Dik Ari, Skenario Allah Itu Selalu Indah. Percaya Saja, Kalo Kita Selalu Berniat Baik Dan Melakukan Yg Terbaik, Pasti Semua Jln Akan Dimudahkan, Tp Kita Memang Harus Sabar.’

 

Ya, SABAR, SABAR, SABAR. Ini kata yang mudah diucapkan tapi nggak mudah dijalani. Orang yang sudah mengalami benturan pahit getir kehidupan, akan tahu makna sabar yang mungkin diterima ‘remeh’ oleh orang yang belum mengalami pahit getirnya hidup.

 

Kemudian, di pertengahan minggu pertama saya dibuat kalang kabut oleh 2 adik saya yang tiba-tiba saja harus registrasi kuliahnya di bulan Januari. Kuliah sekarang yang mahalnya minta ampun, membuat saya uring2an ‘ditodong’ seperti itu. Sebenarnya ini hal sepele, biasanya registrasi semester genap selalu bulan Pebruari akhir, tiba2 nyolot di bulan Januari sementara semuanya saya siapkan bulan Pebruari.

 

Rasanya kesal dan sebel banget ngeliat diri saya yg sejak 1998 memantapkan karir di dunia penulisan, tak pernah ribut dan bingung soal uang, tiba2 dibuat kelabakan perkara uang. Untung di detik2 terakhir, lagi skenario Allah memang tak bisa ditebak. Rezeki memang selalu datang kalau kita mencarinya. Benar-benar mencari dan mengusahakan yang terbaik yang bisa kita lakukan, sepenuh hati percaya Allah akan membantu.

 

Saat ulang tahun saya, terimakasih Tuhan, alhamdulillah, saya masih panjang umur dan sehat walafiat. Selain kerabat dekat dan keluarga, ternyata saya punya teman2 ajaib yang bahkan mengirimi sms, email lucu2. Wah, bahkan banyak yg tdk sy th krn nomor2 asing yang mampir di hp sy, juga id-id email yg baru nongol. Terima kasih untuk semuanya. Mudah2an, Allah memberi saya panjang umur yang barokah dan tentu saja seperti doa tulus semua orang yg dekat dgn saya, semoga jodoh yang terbaik itu segera datang menjemput saya (ataukah mesti saya jemput?). Amin.

 

Tak lama setelah itu, mantan bos saya yg sudah bbrp kali telpon agar saya kembali ngantor balik jd script editor ke PH, sempat membuat saya sedikit ‘bete’. Ya, ternyata tdk sepenuhnya direksi mengikhlaskan jalan yang saya pilih sjk sy resign hampir setahun lalu. Ada aja bujukannya untuk kembali.

 

Untung saat sharing dg bbrp sahabat terbaik yg tahu dan insyaallah ngerti kondisi saya, tekad hati yang mantep seperti yg sudah sy ceritakan di ISTIKHARAH CINTA benar-benar mengkristal. Masa lalu harus ditutup. Hidup harus terus berjalan dan tidak boleh menengok lagi ke belakang, terutama jika di belakang itu ada banyak carut marut yg membuat air mata tercurah.

 

Di tengah kegentingan menyelesaikan proyek tulisan saya, entah kenapa nggak tau saya pencet2 tombol apa, tiba2 file yg sudah hampir purna editing, nggak bisa dibuka, nggak bisa diutak-atik. Data ilang. Blank. Recovery nggak bisa---sepanjang karir kepenulisan saya, baru kali ini peristiwa menjengkelkan terjadi.

 

Saya panic, kalut, dan minta ampun jengkelnya. Rasanya laptop saya pun hampir saya banting. Beberapa orang yg sy anggep IT, sy phone untuk bantu saya. Yach, sy kembali silaturahmi dg mereka, tapi toh tak bisa diselametin. Untung, pihak yg kerja sama dg saya mengerti dan selama ini emang sy nggak pernah ingkar janji sama mereka, jadi mereka bisa maklum.

 

Hikmahnya, setelah itu, saya lebih siapin data untuk backup, lebih ati2 dan ternyata alhamdulillah, Allah msh kasih ingatan yang baik, hingga sy bisa review lg tulisan sebelumnya dan saat menulis ulang sekaligus memperdalamnya hingga bagus.

 

Benar saja, tak lama saya dapat kbr tak perlu ada revisi signifikan hanya sedikit penyelarasan dialog dan salah ketik yang lost control. Selalu ada hikmah, selalu ada sesuatu yg tersembunyi kalo kita bening hati menghadapi ujian. Tapi manusia gitu lho, kena masalah kayak gini maunya perang dan uring2an aja.

 

Lainnya, saat melihat kondisi mantan Pres Soeharto yg sakit dan harus tiap hari di RS yg diulas besar2an oleh media sampe akhirnya meninggal, saya merasa harus lebih banyak bersyukur pada Allah karena diberi kesehatan lahir batin yang tak bisa dihitung2 dengan materi betapa besar arti karunia ini. Belum lagi nikmat2 dan karunia lainnya, yang ternyata sangat banyak. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang pandai bersyukur dan selalu rido dengan apa yang Engkau takdirkan. Amiin.

 

Sekarang sudah bulan kedua 2008, 1 Pebruari yang bersamaan dengan ultah adik saya, dengan bening hati saya berdoa, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada saya dan memudahkan semua urusan saya. Amin.

 

Kinoysan

 

 

 

 


Blog EntrySEKILAS RENUNGANDec 13, '07 2:08 AM
for everyone

Waktu saya memberi pelatihan di Bandung, ada anak kecil yang mengikutinya. Dia baru kelas 1 SMP, anaknya cantik, terlihat cerdas, kecil mungil, tapi lebih tinggi dari saya. Saat saya datang, saya langsung duduk di samping dia di kursi peserta dan mengajaknya bicara. Dia tidak mengenali saya dan saya terkejut ketika mendengar pertanyaannya, kakak kelas berapa, di SMU mana sekolahnya? Huhuhuhuhuhu.....

Saya kemudian meneliti diri saya, yang umurnya sudah hampir 30 tahun.... nggak ada yang salah dengan dandanan saya. Saya juga nggak dandan seperti abg yang mau jalan ke mall, semua baik. Tapi karena tubuh dan perawakan saya yang kecil saya memang sering nggak inget dan mikirin soal umur, banyak orang yang mengira saya masih 20-an tahun, terlebih kalo saya berhadapan dengan anak-anak SMP dan SMU yang mesti saya ajarin menulis.... saya merasa kembali seperti mereka, tertawa dan bercanda bersama mereka.

Dan saya hanya tersenyum pada anak ini.... nggak ada yang perlu dijawab. Saat moderator menyampaikan biodata saya, jawabannya sudah jelas.... Tapi kemudian, mengingat umur ini membuat saya berpikir, 30 tahun, ngapain aja saya selama ini? Seperti diingatkan pada sesuatu, alangkah cepatnya waktu ninggalin kita.

Rasanya baru kemaren saya menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar, berlarian dengan teman-teman kecil saya bermain bola, mengejar layang-layang putus, rame-rame ’mencuri’ mangga dan buah-buahan milik tetangga yang pelit, rame-rame membolos pada guru yang dikenal ’killer’ dan bersama-sama temen-temen cowok nangkring di atas pohon-pohon buah-buahan yang ada di belakang sekolah nggak mau turun karena belum ngerjain pe-er.

Capeknya seharian harus sekolah, les, ke pesantren, belajar, bikin pe-er dan tugas, dll yang menjemukan, terasa hilang begitu saja saat ketemu teman-teman dan tertawa bersama, bermain-main di sungai untuk menangkap ikan atau berburu belut di lumpur sawah, atau di hari idul fitri bersaing dengan temen, siapa yang ngedapetin duit (angpau) paling banyak.

Masih segar dalam ingatan, masa-masa ketakutan dan kebingungan karena haid pertama, rasanya jatuh cinta pada teman sekelas yang wuuuh, cakepnya; bingungnya ngadepin orientasi sekolah waktu sma, ketemu temen-temen cowok yang asyik gaulnya, sebelnya ngadepin cewek-cewek borjuis yang sok berkuasa di sekolah, rasa bangga yang beberapa hari tak hilang saat tau lolos umptn dan ketemu orang-orang yang heterogen dari seluruh negeri, masa-masa bahagia dan seru berada di kampus dengan segudang aktivitas.

Masa-masa sulit yang kemudian menimpa karena orang tua bangkrut dan mulai harus berbenah diri, mencari rezeki sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Meskipun sulit dan susah, tapi semuanya penuh pelajaran dan hikmah. Membuat saya menjadi ’kuat’ dan lebih percaya diri atas kemampuan sendiri, lebih peka terhadap apa-apa yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan.

Kelulusan sarjana, menjadi sesuatu yang sangat spesial, bukan semata-mata karena lulusnya, tapi perjuangannya jauh lebih berharga dari selembar ijazah dan seperangkat toga yang dicita-citakan. Setelah kesulitan selalu ada kemudahan, dan itu benar adanya. Masa-masa sulit yang kemudian membuat saya sadar, betapa baiknya Allah kepada saya.

Pekerjaan bertubi-tubi datang tanpa saya perlu mencarinya. Membuat langkah saya begitu kuat untuk membantu keluarga saya. Buku-buku mulai diterbitkan, beberapa gagal di pasaran, tapi banyak pula yang responnya luar biasa. Karir saya yang tiba-tiba seperti dicurahkan Allah begitu saja, dengan segala kemudahannya. Sahabat-sahabat yang baik yang ada di sekeliling saya, di saat saya menghadapi masa-masa sulit dalam urusan kerja, yang seperti belantara buas yang memangsa siapa saja yang nggak bisa survive.

Wajah-wajah penuh kasih, kakek, nenek, ayah, ibu, adik-adik dan juga kerabat semua silih berganti memenuhi pandangan mata saya. Bahkan, sebagian telah kembali pulang pada sang Khalik.

Semuanya seperti lintasan slide yang berputar cepat dalam memori saya. Apa yang sudah saya lakukan? Belum banyak. Tapi saya tak berkecil hati, seperti kata almarhum ayah saya, kalau kita belum bisa melakukan apa-apa untuk orang lain, pastikan diri kita tidak menjadi beban dan tanggungan orang lain.

Ya, alhamdulillah, saya nggak jadi beban dan tanggungan orang lain dan bersyukur bisa membantu keluarga saya, dan meskipun mungkin tak berarti banyak, saya selalu berusaha keras membantu orang lain, nggak harus dengan harta atau uang, tapi mungkin dengan ilmu saya, pengalaman saya, persahabatan saya, atau bahkan mungkin seulas senyum yang juga dinilai sedekah.

Saya tak pernah berkecil hati, meskipun mungkin semua masih jauh dari harapan. Karena yang penting, harus selalu ada niat mengusahakan yang terbaik untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk orang lain. Waktu terlalu singkat untuk berbuat hal sia-sia.

30 tahun adalah rentang waktu yang lama, tapi alangkah cepatnya semua meninggalkan saya. Alangkah cepatnya semua peristiwa jadi kenangan berubah jadi benda tak kasat mata yang cuman ada dalam ingatan. Apakah kita akan menyia-nyiakan waktu kita untuk sesuatu yang tidak berharga?

Mudah-mudahan ini membuat saya semakin teguh hati, untuk selalu berpikir dan berusaha sebaik mungkin, beribadah sebanyak mungkin dan berbuat baik sebisa mungkin setiap ada kesempatan, agar tak ada sia-sia yang perlu saya sesali di kemudian hari.

Alhamdulillah, 30 tahun waktu yang terlewat dengan kegembiraan, kebahagiaan dan juga rentetan pahit getir yang terasa menyengat dan melemahkan semangat, tak ada yang saya sesali. Sebatas kemampuan dan keimanan saya, saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa lakukan untuk hidup saya dan kemudian memasrahkan semuanya pada Tuhan.

Itu juga kenapa, saya tak terlalu pusing dengan pertanyaan-pertanyaan orang di sekeliling saya seputar pernikahan, mengingat umur 30 tahun adalah umur seorang perempuan dianggap rawan dan sudah deadlinenya menikah. Ada sih kecemasan dan juga kekhawatiran, tapi daripada ntar malah mikirnya sedih dan bikin nggak produktif..., saya lebih suka menulis dan melakukan hal-hal terbaik yang bisa saya lakukan.

Saya pikir ini hanya soal waktu saja. Ujian hidup yang saya lewati sebelumnya jauh lebih besar dari ini. Jadi, saya sering menganggap urusan jodoh ini seperti perjalanan dari Jakarta ke Paris dan sebaliknya. Jakarta (ibarat saya) dan Paris (ibarat jodoh saya) itu sudah ada dan tertentu, tinggal belum sampai dan belum ketemu.

Kalo kita mau ke Paris, pasti kita yang akan pergi ke sana. Tapi kalo Tuhan mempertemukan jodoh, nggak mesti Jakarta ke Paris, tapi bisa jadi sebaliknya; bisa juga dari Paris mampir dulu ke Milan, London, ngeliat-liat dulu bunga tulip di Belanda, nangkring di Kamboja yang candi-candinya eksotis banget, mampir Thailand yang kaya dengan kuil-kuilnya, baru nyebrang Jakarta, tapi nggak ke tujuannya; mau ke Toraja dulu, terus nengokin Bunaken yang keren, mampir Tanah Minang, bablas ke Pantai Melawainya, Balikpapan, pengen ngerasain panasnya matahari khatulistiwa di Pontianak, terus nyasar deh sampai deketnya Ujung Berung (baca: Bandung), hehehe... baru balik Jakarta dengan jalan yang bener.

Atau bisa lebih ribet lagi dari Jakarta nyasar ke New York dulu, pindah Las Vegas, hengkang ke Venezuela, mampir ke Gurun Sahara (bisa jadi kan), nengok-nengok negerinya para nabi kekasih Allah, lalu seperti kilasan cepat nyebrang ke negeri kanguru di Australia, main-main balon udara di Denpasar dulu, pengen tahu Borobudur di Magelang kayak apa, nyebrang balik ke Malioboro di Jogja, terus ke Surabaya dulu lah beli krupuk kulit buaya----salah ding, krupuk kulit ikan yang enak, bosen nih mau dugem dulu di VU atau Zouk di Singapura, ke sana dulu deh, sekarang ke Paris yuk. Tapi tunggu dulu, bunga sakura di negeri matahari terbit lagi bagus-bagusnya, ke Tokyo dulu aaah...., baru deh mikirin terbang ke Paris, tapi pengen liat beruang kutub dulu bisa nggak ya baru ke Paris-nya; misalnya. Dan masih banyak jalan lain yang lebih ribet, lebih seru, lebih fun, dan juga lebih banyak tantangannya.

Mana yang pasti, baru jelas kalau sudah kejadian. Yach, sesimpel itu lah saya menganggapnya. Kenapa begitu, yach karena saya sering dengar pengalaman orang-orang yang sudah menikah dan cara menemukan jodoh mereka yang begitu ajaib dan unik, yang membuat saya tertawa. Dan itu semua membuat saya makin tidak mau pusing.

Menurut saya, masih lebih pusing membangun karakter-karakter dalam novel dan skenario komedi; lebih pusing lagi berdebat dan berargumen sama produser yang keras kepala. Uuuughhh....

Yach, kita harus percaya semua sudah ada takdirnya. Tinggal menjalaninya. Semua sudah tertulis dalam Qada’ dan Qadar yang telah pasti. Kenapa saya memusingkan, kalau memang Allah belum memberikannya? Saya selalu percaya pasti kalo saatnya tiba akan diberikan dengan jalan yang terbaik, dan mungkin.... seperti kebanyakan jalan rezeki yang selama ini saya alami, tak pernah disangka-sangka.

Untuk semua teman, sahabat, kerabat, terima kasih banyak atas doa dan dukungannya. Terima kasih atas cinta dan persahabatannya. Nggak usah khawatir, saya baik-baik aja meskipun ke mana-mana sendiri dan insyaallah akan terus berusaha jadi lebih baik.

Yang penting bagi saya adalah berusaha sebanyak mungkin memperbaiki diri dan membekali diri, hingga jodoh itu pasti akan menghampiri. Doa semuanya juga akan ngebantu saya. Jadi, jangan berhenti ngedoain yang baik-baik buat Ari ya.... Diundang...? Maunya pasti, insyaAllah ya....

 
Kinoysan

 


Blog EntryTHANKS TO EDITORSNov 8, '07 11:43 PM
for everyone

Hari Minggu lalu, Mas Bimo chief editor dari Grasindo telepon saya dan kita pun sharing banyak hal tentang perbukuan dan penerbitan. Akhir tahun, di mana-mana perusahaan yang solid dan professional, pasti sudah mulai ngerencanain tahun depan mau ngelakuin apa saja dan mesti gimana.

Mas Bimo juga tanya, saya mau tulis apa yang bisa diterbitin di Grasindo tahun 2008, tahun 2007 ini naskah saya belum bisa diterbitkan karena pasar fiksi yang menurun drastis. Alhasil, naskah fiksi saya pun (yang tahun 2006 lalu rencanya diterbitkan tahun 2007) dipending penerbitannya. Padahal sejak 2004 setiap tahun saya menerbitkan buku di Grasindo, Pokoknya Aku Suka Kamu 2004, Lho... Kok Kamu? 2005, dan Meooow....! 2006.

Saya bersyukur banget, karena memiliki editor-editor yang baik dan perhatian pada saya. Saya yakin, nggak setiap penulis seberuntung saya selalu diurusi oleh yang terbaik dan paling berpengalaman di bidangnya; disupport penuh untuk kemajuan penulisan dan difasilitasi juga untuk penjualan maupun promosinya. Catatan hati ini saya tuangkan di sini, karena saya miris mendengar ‘caci maki’ beberapa penulis terhadap editor. Editor dianggapnya sebagai musuh yang membantai karya-karya mereka. Padahal, percaya deh, editor adalah orang lain yang pertama kali bisa ngeliat kekuatan dan kelemahan naskah kita, sekaligus orang yang berharap buku kita laku dan bestseller.

Kenapa saya bisa tulis begini, karena saya pernah jadi editor penerbitan lebih kurang tiga tahun di Adicita Grup (2001-2003). Jadi, saya bisa ngerti gimana ketika itu saya pengen banget buku-buku yang saya edit hasilnya bagus dan penjualannya juga bagus, nggak peduli siapa penulisnya, masih pemula atau sudah sangat ahli.

Dan abis dari sana saya juga masih jadi editor, meskipun mengurusi skenario (script editor di Multivision Plus) yang pada dasarnya, kerjanya sama dengan editor buku. Saya pun selalu berharap skenario yang saya urusin hasilnya selalu bagus. Jadi, saya yakin nggak ada editor yang niatnya ngejerumusin penulis biar tulisannya makin nggak keruan misalnya, yach kecuali kalo misalnya editornya ini nggak ngerti dan nggak paham sama pekerjaannya, nah, kalo ini sih lain lagi persoalannya.

Sekarang balik lagi ke pengalaman-pengalaman saya bersama para editor terbaik saya. Pokoknya Aku Suka Kamu, mungkin nggak akan bagus penjualannya kalau nggak ada editor yang sebaik Mas Bimo yang perhatian banget ngarahin saya agar tulisan jadi bagus. Makasih ya, Mas. Mungkin buku itu nggak akan bagus kemasannya kalau nggak ada Mbak Mira yang sabar ngurusin tetek bengeknya yang kecil-kecil tapi ngeselin, atau ngurusin saya yang suka bawel kalo masih aja belum pas. Duuuh, sori ya, Mbak Mira. Tapi untungnya Mbak Mira ini baik banget. Thanks yo, Mbak. Seneng banget bisa kerja sama dengan mereka.

Ada juga Mas Indra dan Mbak Maria dari Media Pressindo yang dengan kata support dan persahabatannya (bahkan sejak tahun 2001, waktu saya masih ada di Jogja) berusaha keras meyakinkan saya kalo saya ini bisa menulis fiksi komedi. Komedi. Haha, itu sesuatu yang sulit banget buat saya. Tapi dari dorongan mereka lah, lahir Pacar Sobatku dan Duo Tajir, novel lucu yang penjualannya bagus.

Mereka juga begitu perhatiannya mengurus segala sesuatunya, masih menyempatkan membalas sms saya yang kadang nggak tahu diri di tengah kesibukan mereka. Makasih ya Mas, Mbak.... saya sudah rindu untuk ngobrol-ngobrol lagi berlama-lama di Media Pressindo sampe akhirnya bisa nemuin satu tema unik untuk nulis novel. Mudah-mudahan saya bisa terus nulis novel-novel lucu yang lebih berbobot.

Ada pula Mas Sjamsu Dradjad, editornya MU3 yang rada unik waktu nanganin naskah saya Ketika Berjumpa, waktu itu---karena saya lagi seneng-senengnya nulis dengan banyak karakter, dianya sampe bingung. ‘Aduuuh Ari, karakter kamu ini lhoh, jadiiin dua atau tiga aja. Biar nggak pusing. Nggak usah dipanjang-panjangin kayak sinetron tersanjung segala.’ (waktu itu sinetron tersanjung masih tayang). Dan begitulah, proses revisi saya lakuin. Dia juga baik banget nurutin permintaan saya yang aneh-aneh soal naskah dan cover. Thanks yo Mas Sjam, jo kapok ngedit naskahnya Ari. Hehe:)

Dari Cinta-Mizan, ada Mas Benny yang ngurusin naskah-naskah jadul saya yang bisa jadi ‘baru’ lagi dalam Cowok #1. Makasih yo, Mas Ben. Terutama waktu ngurusin Hot Chocolate. Bahkan saya sering ngerasa Hot Chocolate itu bisa lahir karena ada Mas Benny. Kalau nggak, saya nggak tahu gimana itu bisa ditulis.

2006 adalah tahun yang saya ngerasa kehilangan kemampuan saya untuk menulis. Semua yang saya tulis, rasanya begitu-begitu saja dan saya biarin aja nggak selesai di laptop saya. Beberapa buku yang terbit adalah naskah-naskah yang ditulis tahun sebelumnya. Saya begitu downnya dan merasa ya sudahlah, toh buku saya sudah ada beberapa. Tapi penanganan Mas Benny terhadap penulis mungkin sedikit berbeda dengan editor yang lain, dia memberi support dan juga konseling penulisan tentang apa yang mau ditulis oleh penulis yang diurusinya.

Sampai saat ini, saya pribadi masih merasa buku Hot Chocolate adalah tulisan terbaik yang pernah saya tulis. Bukan cuman karena ditulis di saat depresi berkepanjangan akibat beban kerja yang tinggi saat itu di Multivision Plus (waktu itu saya masih bekerja Multivision Plus sebagai script editor, 2003 sampai akhir April 2007), tapi juga karena tulisan itu benar-benar keluar dari jalur seorang Ari menulis.

Beda banget dari tulisan-tulisan fiksi yang sebelumnya saya tulis. Belum lagi waktu proses pencarian endorstmentnya, aduuuuuh, semuanya orang sibuk pula sampe rasanya mau nggak jadi aja deh..., untungnya Mas Benny ini supportnya bagus, akhirnya kedapet deh semuanya.

Itu sebabnya, saya masih terus yakin dan berdoa, agar buku ini bisa bestseller dan mungkin suatu saat entah kapan ada produser yang bersedia memfilmkannya. Bukan cuman karena ceritanya dan karakter-karakternya yang unik, tapi juga muatan moral yang secara halus dan bagus diatur serta diselipkan lewat kepiawian tangan editornya.

Mudah-mudahan kelak ada kesempatan lagi ketika pemasaran fiksi sudah mulai membaik bisa kembali dieditori Mas Benny. Kapan yo, Mas? Naskah metrochick-nya yang waktu itu kita bahas di Depdiknas masih kepending juga di laptop saya.

Kemudian ada pula Tahajud Cinta yang unik dan ajaib menurut saya, itu gimana nulisinnya saya juga nggak begitu tahu. Yang jelas, buku itu nggak akan lahir kalau nggak ada Mbak Asma Nadia dari Lingkar Pena yang gigih banget ngarahin, mensupport gimana menulis yang total, ngelepasin semuanya. Kalo mau sadis sedih, sedih aja sekalian, menangis darah ya nggak pa-pa, tapi kalo mau tertawa bahagia ya sudah sekalian aja. Begitu lebih kurang kata-katanya yang masih saya ingat.

Sms-smsnya yang nggak berhenti untuk terus support saya, agar menulis dengan bagus, karena katanya saya punya ‘potensi’ yang nggak dimiliki penulis lain. Hehe. Saya sendiri nggak tahu apa yang dimaksud Mbak Asma waktu itu. Tapi, yang jelas supportnya bermanfaat banget. Menulis emang profesi yang rawan stres dan gampang down, jadi saya bersyukur banget punya editor-editor yang nggak cuman peduli sama buku saya, tapi juga kelangsungan kepenulisan saya, kemajuan penulisan saya. Thanks, Mbak.

Juga campur tangan dinginnya Mas Andi Biru Laut, sang editor yang sabar abis. Dia ini selalu tertawa dan bilang, kinoy kamu itu kalo nulis mbok ya jangan nanggung. Waduh, nggak enak banget itu lhoh. Udah tensi tinggi, tahu-tahu diturunin gitu aja! Feel-nya jadi ilang. Lalu dia akan ngasih contoh-contoh simpel yang gampang saya analogikan dengan hal-hal lain.

Pembawaannya yang friendly juga membuat saya ngerasa nyaman untuk berdiskusi tentang buku dan penulisan. Makasih ya Mas. Pokoknya jadi bagus deh bukunya kalau diurusin Mas Andi. Makanya, kemarin rada ngotot juga agar dieditori Mas Andi untuk buku baru saya di sana. Bukannya saya nggak mau dieditori orang lain, tapi ada hal-hal tertentu yang saya tahu banget hanya Mas Andi yang punya.

Sama dengan editor-editor yang lain yang saya tahu, mereka punya sesuatu yang bisa bikin tulisan-tulisan di dalam buku saya lebih hidup. Nggak bisa dijelasin, tapi itu bisa saya rasakan saat saya membaca kembali tulisan saya waktu sudah jadi buku.

Mbak Asma juga mau menjemput bola, mengarahkan saya untuk menulis sesuatu yang nggak saya pikirkan. Thanks banget ya, Mbak, Mas. Dan jangan kapok-kapok ngedit dan ngoreksi tulisan Ari agar jadi lebih baik dan lebih bernas. Seneng banget kerja sama dengan Lingkar Pena, meskipun personel di sini cuman dikit mereka profesional banget ngurusin penulis dan kayaknya nggak pernah telat ngirim royalti sama laporannya. Mudah-mudahan tiap tahun saya bisa nerbitin di Lingkar Pena dan ketemu terus sama mereka.

Ada juga Mbak Desi dari Penerbit Andi, yang begitu baik memfasilitasi dan mengurusi buku-buku saya. Dan meskipun buku saya yang diterbitkan di sana, King Kong Jatuh Cinta dan Jadi Penulis Fiksi? Gampang, Kok! hasil terbitannya belum sesuai dengan harapan saya dan Mbak Desi juga, karena berbagai kekurangan yang nggak bisa dikendalikan, tapi saya tahu Mbak Desi sudah berusaha keras memberikan yang terbaik buat saya.

Saya pun sangat menghargainya dan berharap di masa yang akan datang, kekurangan-kekurangan itu bisa dibenahi hingga hasilnya jadi maksimal dan bagus seperti buku-buku saya yang diterbitin oleh penerbit lainnya. Saya mengerti sekali, bagaimana ketika perusahaan besar mengambil keputusan. Ada banyak faktor yang nggak bisa dikendalikan. Pengalaman saya bekerja sebagai script editor di rumah produksi raksasa dengan banyak direksi, membuat saya tahu persis bagaimana peliknya sebuah keputusan ditetapkan.

Juga untuk Mbak Tri dari Penerbit Qultum Media, yang sudah baik ngurusin saya. Makasih banyak Mbak, dan maafin juga kalo selama ini saya bawel banget karena buku anak-anak itu nggak cuman menjual isi dan mutu, tapi juga hiburan. Bagaimana anak bisa tertarik kalau bukunya suram dan nggak nyenengin?

Mendidik anak---meskipun saya belum berumah tangga dan belum punya anak, tapi saya cukup sering berinteraksi dengan anak-anak. Mereka bisa cepet nangkep sesuatu kalau disampaikan dengan cara yang fun dan menyenangkan, termasuk urusan pembelajaran lewat buku. Itu kenapa saya nggak bisa lagi melepaskan naskah-naskah anak selama penggarapannya masih belum terkontrol dengan baik.

Memang ada buku yang digarap dengan sekedarnya dan bestseller, tapi bagi saya itu cuman keberuntungan yang jangan diharapkan. Saya tetap berprinsip apapun yang dikerjakan dengan sebagus mungkin tetap akan ada harapan untuk memberikan hasil yang baik, cepat atau lambat.

Prinsip yang digunakan dalam mengurusi buku mesti dibalik, digarap sebagus mungkin aja hasilnya belum tentu bestseller, apalagi kalau asal-asalan. Iya kan? Jadi, penanganan buku dari mulai penulisan naskah sampai abis produksi, distribusi, hingga promosi pun tetap harus sungguh-sungguh agar hasilnya maksimal dan membawa kegembiraan bagi semua pihak.

Buku anak-anak adalah masalah penerbitan buku yang paling kompleks. Itu kenapa saya sangat menghargai kosentrasi mantan bos saya, pemilik Adicita, Bpk. Mahyudin Al Mudra, yang konsens banget dan keras sekali dalam memeriksa dan mengeditorial buku-buku anak hingga hasilnya pun bisa bagus, dan nggak heran juga kalo banyak penulis di sana yang mendapat penghargaan Adikarya Ikapi, juga Anugerah Kebudayaan, yang saya salah satu penerimanya (Anugerah Kebudayaan 2006 untuk Kategori Penulis Anak Yang Berdedikasi Pada Kebudayaan), bahkan ketika saya sudah lama meninggalkan Adicita.

Alhamdulillah, karena saya memang selalu berpikir untuk masuk satu tempat dengan baik dan keluar dengan baik pula. Ketidakcocokan dalam urusan kerja adalah hal biasa dalam dunia ini, tapi jangan sampai itu merusak hubungan baik kita. Alhamdulillah pula, hal itu masih bisa saya pegang ketika saya hendak meninggalkan Multivision Plus, meskipun banyak pula yang berusaha mempertahankan saya di sana. Hubungan yang baik, saya yakin tetap akan membawa kebaikan, entah cepat atau lambat.

Pengurusan Adicita yang serius untuk buku-buku anak, membuat saya selama ini hanya kepikiran menulis buku anak untuk Adicita dan waktu Qultum Media telpon saya untuk minta naskah cerita anak. Baru saya sadar, waktu Mas Bimo hari Minggu itu telepon dan nanya, Ari kamu itu nulis buku anak juga ya?

Wah, abis itu saya langsung deh membuka laptop saya dan betapa banyaknya naskah-naskah untuk anak-anak yang mesti saya tawarkan ke penerbit-penerbit yang memerlukan. Tapi saya belum tahu mesti ke mana memilih penerbit buku anak yang sesuai dengan tulisan-tulisan saya ini. Adakah yang mau membantu?

Akhirnya, nggak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih banyak untuk semua editor yang sudah mengurusi buku-buku saya. Terima kasih juga untuk persahabatan dan supportnya yang luar biasa. Tanpa mereka, mungkin nggak akan pernah ada nongol buku-buku kinoysan dengan bahasa dan desain yang bagus. Mudah-mudahan kerja sama yang baik terus berlangsung dengan baik dan saling memberi manfaat.

Kinoysan



Blog EntryIKHLASOct 1, '07 4:02 AM
for everyone
Waktu saya ngalamin musibah atau hal-hal yang nggak ngenakin, ucapan yang sering saya terima adalah, ‘Sabar ya, Ri. Tabah, ikhlas. Tawakkal, pasrah. Pasti ini yang terbaik.’ Dan kata-kata sejenis yang lebih kurang berarti sabar, tabah, ikhlas, tawakkal, pasrah. Namun, percayalah, kata-kata SABAR, TABAH, IKHLAS, TAWAKKAL, dan PASRAH tersebut mudah banget untuk diucapin, tapi dijalanin berat. Berat banget. terutama berkaitan dengan IKHLAS. Karena ikhlas berada di dalam hati masing-masing, nggak ada orang lain yang bisa liat, tapi akan berpengaruh luas terhadap tindakan kita selama ngadepin musibah.

Ramadan ini, adalah Ramadan yang berbeda dari tahun-tahun yang saya alami sebelumnya. Karena ayah saya kini sudah nggak ada di samping saya. Berpulangnya ke Rahmatullah setahun lalu tepat di hari lebaran, mau nggak mau kembali membuka kesedihan saya. Saya ingat, gimana beratnya untuk IKHLAS menerima segala sesuatu yang ditentukan ALLAH sebagai takdir yang terbaik.

Bukan cuman karena saya cukup dekat dengan beliau, tapi sepanjang masa, setiap Ramadan dan Lebaran, mau nggak mau saya akan terus ingat. Oh, ayah sudah nggak ada lagi bersama saya. Berhari-hari setelah meninggalnya beliau, saya masih sering nggak mau menerima dan sering berpikir, bahwa ayah cuman pergi beberapa hari untuk kerja, seperti biasa yang saya alami sejak kecil, tapi nantinya akan pulang, bersama lagi, mendongengi saya cerita-cerita yang lucu dan membuat saya tertawa sampai tertidur. Saya tidak bisa menangis ketika itu, sampai berhari-hari dan baru ketika saya meninggalkan rumah dan kembali ke Jakarta, tangis saya bisa meledak. Berusaha menerima dan harus belajar IKHLAS.

Dengan niat itulah, kemudian kepergian ayah bisa saya terima dengan ringan, dan sekaligus kesadaran bahwa ayah akan tetap ada di sisi saya, selama saya mendoakan untuknya, memohonkan ampun atas semua dosa-dosanya dan memintakan tempat yang sebaik-baiknya untuknya di akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak hal yang tidak sejalan dengan rencana dan keinginan kita, baik dalam kehidupan keluarga, sosial, cinta, pekerjaan, dan semua aspek kehidupan. Beberapa banyak lintasan kisah hidup yang pahit, yang saya alami, ternyata membuat saya SADAR BETAPA BERATNYA UNTUK IKHLAS.

Beratnya ikhlas ini apa sebanding dengan pahalanya? Ya, pahala ikhlas sangatlah besar. Saya ingat ada satu kisah seorang rahib yang menjelaskan tentang tingginya pahala IKHLAS, karena memang untuk menjadi IKHLAS itu hal yang berat. Bisa jadi kita memberikan atau melakukan sesuatu untuk orang lain, tapi mari kita tanya hati kita apakah kita benar-benar IKHLAS? Karena secuil roti pun yang diberikan dengan IKHLAS, ternyata pahalanya sangat banyak bahkan menghapuskan dosa-dosa yang luar biasa beratnya.

Nah, kisah sang rahib itu lebih kurang seperti ini:

Rahib ini terkenal alim dan sholeh. Namun iblis berusaha menggoda dan merayunya dengan wujud seorang wanita cantik. Semula rahib ini bertahan dari godaan sang iblis, tapi iblis terus menerus merayunya hingga luluhlah sang rahib. Akhirnya, mereka pun melakukan perzinahan. Sang iblis senang dan meninggalkannya.

Sementara sang rahib mulai menyesali diri, tapi tentu saja dosa perzinahan yang besar tak cukup dibersihkan dengan menyesali diri. Saat itu, datanglah seorang pengemis ke rumah sang rahib. Pengemis itu minta roti yang hanya setangkup di meja sang rahib. Rahib pun memberikannya dan pengemis pun pergi dengan senang. Sang rahib pun pergi mandi, dan saat itulah dia mati.

Malaikat penghitung amal pun menimbang dosa dan pahalanya. Dosa perzinahannya membuat timbangan keburukan langsung menukik berat yang membuat dia hampir bisa dipastikan jadi ahli neraka, tapi kemudian ganti pahala ikhlas memberikan setangkup roti yang dihitung, ternyata pahala keikhlasan itu jauh lebih berat dari dosa perzinahan sang rahib, hingga akhirnya sang rahib pun menjadi penghuni surga.

Lalu apa definisi IKHLAS, menurut saya lebih pada niat kita melakukan sesuatu yang disebabkan hanya karena ALLAH; bekerja, beribadah, berbuat baik, semuanya harus diniatkan dengan ikhlas karena ALLAH.

Terlebih saat kita menghadapi masalah, menghadapi ujian dan musibah, semua harus tetap ikhlas karena Allah dan selalu berbaik sangka kepada-Nya bahwa di balik semua itu ada hikmah dan kebaikan yang banyak. Jadi, mari kita semua sama-sama berusaha menjadi orang yang IKHLAS dalam ngadepin segala sesuatu dan ngelakuin semua kebaikan.

Keikhlasan kita tersebut, mudah-mudahan dinilai sebagai pahala yang besar yang membantu membebaskan kita dari dosa-dosa yang terus bertambah.

Kinoysan

Blog EntryMAMPIR-MAMPIRJul 24, '07 2:28 AM
for everyone
Selama beberapa hari ini saya sibuk dengan acara mampir-mampir. Wah, seneng banget bisa nggak diuber-uber waktu untuk ngobrol dan cerita. Ternyata dari mampir-mampir itu ada yang berkesan banget bagi saya.

Waktu di Jogja, hari Rabu (18 Juli 2007) saya ketemu sama direktur penerbit yang dulu sekali nerbitin buku2 saya dan sampe sekarang hubungan saya tetep baik. Ada banyak cerita, tapi yang masih terngiang-ngiang di benak dan pikiran saya adalah, 'cari uang dengan menulis itu gampang, Ari, tapi banyak orang menulis yang nggak mikirin apa akibatnya dari yang ia tulis. Banyak tulisan yang laris manis tapi bagi saya itu nggak lebih dari sekedar sampah, karena bukannya memberi satu manfaat, tapi cuma merusak karena kebusukannya.'

Begitu lama saya mikirin kalimat ini, benar. Mencari uang dengan menulis bisa jadi memang gampang, tapi apakah yang kita tulis itu sudah memberi manfaat atau cuman jadi sampah, bisa jadi nggak pernah terpikirkan.

Kemudian saya ketemu juga dengan orang promosi dan produksi dari penerbit lain di Jogja yang tengah nerbitin buku saya, berbagi cerita tentang beberapa orang penulis skenario yang mereka kenal, dan juga cerita bagaimana di balik layar rumah produksi terbesar yang pernah begitu deket dengan keseharian saya, di mana industri udah bener-bener berkuasa, hingga kadang2 hal yang nggak masuk akal jadi harus masuk akal dan bisa dilakukan.

Memberi saya pemahaman, bahwa dunia production house besar, tetaplah jadi hal yang menarik bagi sebagian besar penulis skenario untuk bekerja. Padahal, keadaan di dalamnya belumlah seindah apa yang tampak di luar. Yach, akhirnya dari dua orang yang baik ini saya menyadari satu hal, di dunia ini orang memang saling melihat, saling memperhatikan. Orang selalu melihat milik orang lain lebih bagus, rumput tetangga selalu lebih hijau, hingga kadang kita lupa untuk mensyukuri hal-hal yang sudah kita miliki, hanya karena berharap hal-hal yang sangat besar.

Pertemuan saya dengan kawan lama, lajang yang punya visi jernih bahwa membangun usaha harus beragam karena tak tau usaha mana yang berhasil, memberi saya pemahaman kalo manusia harus berusaha seoptimal mungkin mengkaryakan semua kemampuan dan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Saya kagum karena kawan saya ini, yang dulunya saya kenal dia termasuk penganut 'atheis' kini sudah jadi sosok 'religius' dengan agama yang jadi pilihannya.

Di usia saya yang menjelang 30 thn dan hampir semua orang kadang ribut menanyakan kapan saya menikah, saya menengok beberapa kawan saya yang udah menikah, yang saya anggap mereka 'bahagia' tapi ternyata menyiratkan cerita pedih dan sedih; masalah ekonomi, masalah suami yang nggak sesuai harapan, ribut sama mertua, masalah anak, dll; hingga saya yang biasanya sedih, kenapa masih belum ada jodoh, saat itu bersyukur ternyata ALLAH BEGITU SAYANG sama saya, karena saya masih lajang dan tak perlu mikirin ruwet dan peliknya rumah tangga seperti kawan2 saya itu. Karena bagaimanapun, rumah tangga yang dibangun di atas usia yang matang, komitmen yang jelas, cinta yang terarah, pondasi ekonomi yang stabil, tentu lebih mudah bahagia dan senang daripada rumah tangga yang dibangun dengan asal cepet menikah, masalah nanti adalah urusan nanti.

Penulis terkenal yang sejak kecil saya kagumi dan saya temukan di Solo, memberikan saya wawasan, menulis saja tak membuat hidupnya miskin. Rumah dan semua isinya sangat layak dan lebih dari memadai untuk ukuran masyarakat Indonesia. Keluarganya juga terlihat baek-baek saja. Dan dia memberikan ilmu yang sangat berharga buat saya, bahwa jadi penulis itu harus:

Pertama, PANDAI DAN MEMBUKA DIRI.
Kedua, TERUS BELAJAR.
Ketiga, PEKA.
Keempat, TIDAK TAKUT DIKRITIK DAN DIKOREKSI.

Kawan saya yang lama nggak ketemu pun, telah begitu senang melihat saya sekarang bisa ditemukan dan diajak ngobrol berlama-lama tanpa takut akan kekurangan waktu.

Pertemuan-pertemuan dengan kawan-kawan lain yang sepertinya dulu, ketika saya bekerja kantoran adalah hal yang sulit saya lakukan, kini begitu mudahnya dan semuanya memberi manfaat yang berharga.

Bila dalam Islam ada ajaran Silaturahmi itu memanjangkan umur dan memperbanyak rezeki, saya kira itu benar adanya. Karena dengan silaturahmi orang akan ngedoain kebaikan kita, bertambah rezeki, jelas benar karena dari apa yang saya alami, beberapa rencana kerja sama udah jelas ada di depan mata saya. Tanpa direncanakan, hanya karena saya menemui mereka untuk menyambung tali silaturahmi yang sudah sempat terputus karena kesibukan masing-masing.


Kinoysan


Blog EntryKALAU SAYA JADI GUBERNUR DKI JAKARTA...Jul 5, '07 1:27 AM
for everyone

Beberapa waktu yang lalu ketika akan terjadi resuffle kabinet oleh Presiden SBY, adik saya yang juga penulis (meskipun dia lebih banyak menulis artikel dan tulisan ilmiah berkaitan dengan studi peternakan, sesuai jurusan dan keahliannya), menelpon saya dan saya bilang tengah pusing ngurusin editorial skenario, lalu sambil tertawa dia nyeplos saja, ’Mbak ntar aku doain kepanggil SBY ikut jadi menteri deh. Jadi nggak pusing ngurusin skenario!’ Tentu saja saya tertawa ngakak dan balas bilang, ’Gimana mau kepanggil, peranan ke masyarakat aja belum ada kok, mau-maunya jadi menteri.’

Dan waktu pergantian menteri itu, pasti ada sebagian masyarakat yang nggak setuju karena ternyata ada menteri yang mestinya dicopot malah masih bertengger di tempatnya, ada beberapa yang hanya dipindahtempatkan, dan ada yang malah diberhentikan. Whatever lah, itu telah terjadi dan kita berdoa saja semoga kinerja mereka semakin baik, karena seperti kata bunda saya, yang selalu berkata dengan enteng, ’saya nggak peduli siapa yang mau jadi presiden atau menteri atau pejabat negara bidang apapun, yang penting beras dan kebutuhan pokok murah, sekolah anak-anak murah, ke mana-mana aman, dan ke rumah sakit murah....’

Yach, bunda saya sama seperti kebanyakan rakyat lainnya yang selalu berpikir sederhana tentang kehidupan sehari-hari, yang dipikirnya susah kalo uang gak cukup karena harga barang-barang terus melambung. Tapi kalo semuanya cukup dan terpenuhi, nggak bakalan ada keluh kesah lagi.

Saya sudah hampir melupakan insiden telepon dengan adik saya itu, tapi harus ingat lagi karena temen saya sesama penulis, saat kami ngobrol sambil nonton berita sore yang juga ngebahas pilkada DKI, tiba-tiba saja nyeletuk, ’Ari kalo elo jadi gubernur DKI, apa yang elo lakuin? Kasih 11 program!’

Saya pandang dia dan hampir tertawa, tapi tak jadi. ’Kenapa 11 program? Bukannya 10 aja? 11 angka yang asing.’

’Biar beda aja,’ katanya. Asal banget. Dasar penulis!

Saya lalu pikir sejenak. Jakarta yang hampir 4 tahun saya tinggali, telah memberikan gambaran yang sedikit banyak terekam baik di benak saya; dengan segala pesona dan permasalahannya yang bejibun. Lalu kata saya,

Pertama, saya akan larang keberadaan kendaraan pribadi, apapun jenisnya, kecuali sepeda. Ini untuk ngilangin kemacetan dan polusi udara. Tapi yang jelas, semua angkutan umum harus diperbaiki fasilitas dan prasarananya; baik laut, darat, udara---jadi ke mana-mana pakai angkutan umum nggak risih dan nggak malas karena fasilitas yang kumuh. Termasuk rel kereta apinya, jadi nggak sering njebluk. Bersihin juga gubuk2 liar yang mengganggu pemandangan sepanjang rel kereta api.

Teman saya melotot. Gimana mungkin? Pasti ditentang mati-matian. Orang ke Jakarta pengen kaya, pengen beli mobil mewah, kalau perlu pesawat pribadi.

Ya, ya. Pasti, kata saya. Masyarakat kita memang lebih cenderung menentang apa yang kelihatannya nggak sesuai kebiasaan. Tapi lihat saja, kalau diteruskan jalan tetep saja jalan. Dulu adanya busway juga ditentang mati-matian, toh setelah dijalankan malah busway nggak pernah sepi dari penumpang. Orang boleh beli kendaraan pribadi, tapi harus dipakai di luar Jakarta. Jadi, Jakarta nggak lagi macet dan bebas polusi yang nyesekin.

Teman saya diam. Saya pikir lagi.

Kedua, hentikan pembangunan mall dan apartemen mewah. Pembangunan yang terus menerus menghabiskan tanah Jakarta dan nggak ada lagi tempat untuk resapan air, jadinya banjir seperti yang kejadian bulan Februari lalu. Diikuti, penggalian sungai-sungai hingga kedalamannya mencapai seperti aslinya karena sungai-sungai sudah meninggi tertimbun sampah dan penjernihan airnya, mempercantik sungai hingga sungai-sungai benar-benar bisa dimanfaatkan sebagai tempat menampung air hingga nggak ada banjir dan sekaligus sarana transportasi wisata. Kalo sungainya dangkal dan bau, penuh sampah, siapa yang mau jalan lewat sungai?

Akur, kata teman saya. Hem, tapi saya nggak yakin para pengusaha konstruksi akan sepakat dengan hal ini. Whateverlah, kan ini cuman berandai-andai.

Terus yang ketiga, masalah sampah. Di mana-mana sampah hingga sungai-sungai pun penuh dengan sampah. Harus ada program terpadu untuk urusin sampah hingga gelar kota adipura itu nggak cuman berlaku di sebagian sudut Jakarta, tapi keseluruhan.

Caranya? Tanya teman saya. Saya tertawa, untuk apa ada pakar-pakar sampah kalau gubernur juga mesti mikirin caranya? Gubernur itu seperti koordinator saja, pimpin, koordinasikan dengan bagus dan serahkan semuanya pada orang-orang yang kompeten, hasilnya pasti bagus.

Yang keempat, pendidikan dan kesehatan murah. Yach, ini sih standar lah. Kalo semua orang dapat pendidikan dan kesehatan layak, mikirnya maju, badan sehat bisa kerja bagus otomatis ke depannya juga masa depan bagus....

Yang kelima, budayakan program malu. Malu korupsi, malu kalau nggak disiplin, malu kalau nggak bisa urus kerjaan, malu kalo lihat rakyatnya sengsara dan nggak terurus, malu kalo lihat kemungkaran dan sbgnya. Caranya yach, gubernur dan jajarannya mesti jadi contoh teladan, jangan malah ngasih kesempatan untuk ngelanggar. Budaya malu ini yang sepertinya sudah hilang di lingkungan kita. Bahkan, banyak yang nggak tahu malu. Sudah jelas-jelas korupsi, masih ada aja alasannya berkelit. Inget-inget, manusia hidup nggak lama, nanti gimana dong di akhirat? Atau sudah yakin akhirat nggak ada? Jadi, sisi religi juga harus digarap hingga orang jadi kembali takut dosa, takut neraka.... takut dan malu berbuat salah....apalagi kalo ngerugiin negara dan masyarakat....

Yang keenam, pemberdayaan masyarakat untuk keamanan. Siapa yang ngerasa bepergian malam hari di Jakarta aman? Mungkin hanya sedikit. Saat penerbangan saya didelay dari Surabaya mestinya jam delapan harus berangkat jam sebelas malam hingga tiba di Jakarta jam dua belas malam, saya pulang naik taksi dari bandara ke roxy mas dengan hati terus was-was karena tahu Jakarta nggak aman. Apapun bisa terjadi dan saya cuman seorang cewek yang nggak punya kekuatan apa-apa. Tapi kalau saya tiba di Denpasar jam 12 malam, saya dengan santai naik taksi ke tempat tujuan saya. Denpasar nggak memberi saya rasa takut karena saya tahu di sana aman dan jalan-jalan yang lengang di saat malam, tak membuat saya takut. Siskamling dan berbagai aspek keamanan yang ngelibatin masyarakat mesti dijalankan lebih giat.

Yang ketujuh, soal kebakaran yang sering melanda Jakarta, terutama di lingkungan padat penduduk yang sering kali menghabiskan banyak perumahan karena lambannya penanganan pemadam kebakaran, sering karena lokasi jauh, macet, tapi juga karena armada pemadam kebakaran yang sepertinya nggak seimbang dengan luasnya daerah yang ditangani. Jadi, mesti ditambah, mesti disediakan di setiap tempat terutama daerah2 yang padat penduduk.

Yang kedelapan, program padat karya. Setiap pengusaha yang ada di Jakarta, diberi kewajiban mengentaskan pengangguran sesuai dengan perbandingan usahanya. Jadi makin besar usahanya, harus makin banyak pengangguran yang dipekerjakan dan dibina, di luar karyawan-karyawan yang sudah mereka miliki.

Saya nggak tahu, berapa banyak angka pengangguran di Jakarta, tapi ini sungguh mengganggu dan sering jadi sumber masalah. Orang lapar, sering kali nekat dan akhirnya nimbulin berbagai tindakan kriminalitas. Sekaligus alokasikan juga tempat untuk pedagang-pedagang kaki lima di tempat yang baik, strategis, harga tempat terjangkau---jadi nggak setiap waktu dikejar-kejar trantib. Hal basi yang sebenarnya sejak dulu selalu berulang. Atau jangan-jangan biar trantibnya selalu ada kerjaan? Hehe asal banget deh!

Yang kesembilan, pengurangan jumlah penduduk. Harus nggak ada lagi orang-orang ke Jakarta tanpa tujuan yang jelas, lebih-lebih kalau nggak jelas juga apa kerja dan akan tinggal di mana. Urbanisasi harus distop. Kalau perlu pengurangan penduduk Jakarta di daerah padat, transmigrasi mungkin sudah nggak familiar (meskipun bisa juga digalakkan lagi mengingat luasnya daerah di luar pulau Jawa yang masih bisa dimanfaatkan), tapi dengan sistem padat karya, pengusaha Jakarta yang punya usaha di luar Jakarta, bisa mengalihkan pengangguran-pengangguran ini ke luar Jakarta dengan pekerjaan yang layak.

Yang kesepuluh, apa ya? Penanganan gelandangan dan anak-anak jalanan secara lebih terpadu, jadi nggak akan terlihat lagi pengemis dan pengamen yang selalu ada di sembarang jalan dengan pakaiannya yang kumel. Mereka sebagaian besar masih tenaga-tenaga produktif yang bisa dikaryakan dan diberdayakan, tapi yach... minimnya penanganan membuat mereka malah menjadikan pengemis dan pengamen sebagai profesi. Malah ada sindikatnya segala....

Yang kesebelas, perang keras terhadap segala kemaksiatan. Berlakukan jam buka terbatas untuk tempat-tempat hiburan, perang keras terhadap judi, narkoba, miras, jual beli seks dan perempuan, dan stop tayangan-tayangan mistik di seluruh stasiun televisi. Aparat hukum harus bener-bener bersih dan berwibawa untuk menegakkan hal ini. Lah, kalau malahan jadi backing, gimana bisa ilang? Saya tahu, kemaksiatan akan terus ada sampai akhir zaman, tapi seenggak-enggaknya diminimalisir bukannya malah dilegalisasi.

Stop, Ari. Sudah sebelas. Saya mengangguk-angguk. Iya, sudah sebelas, dan saya nggak tahu apakah yang saya katakan tadi sudah mencakup kesejahteraan rakyat atau belum, tapi yang kepikir di benak saya tentang pembenahan Jakarta. Teman saya lalu nyeletuk, kok Ari nggak ngebahas soal hukum sih.

Hah, saya langsung inget sama perkataan seorang kawan saat kami diskusi panjang lebar, ’jangan bicara hukum dengan orang lapar. Penuhi dulu perut mereka yang lapar, baru ajari mereka apapun, termasuk soal hukum.’ Saya pikir benar juga. Jadi, sektor ekonomi harus kuat, pendidikan bagus, baru bangsa ini bisa maju dan jaya. Lagian masalah hukum ada kan biasanya sebenarnya berawal dari masalah-masalah ekonomi.

Ada yang mau menambahkan atau mengurangi? Berandai-andai boleh dong! Siapa tahu dengan begitu Jakarta jadi tempat yang lebih nyaman buat semuanya. Yach, meskipun saya juga nggak berniat untuk menetap di Jakarta selamanya.

Setelah menuliskan apa yang kami diskusikan dengan teman saya itu, saya malah berpikir oh... gampangnya menyusun rencana, tapi apakah realisasinya akan segampang itu? Bagaimana dengan pihak-pihak lain, bagaimana dananya?

Ah, pusing!

Tentu saja saya pusing, karena saya toh bukan gubernur DKI, ya nggak? Saya kan memenuhi pertanyaan teman saya tadi hanya iseng-iseng berandai-andai kalau saya jadi gubernur DKI, masa nggak boleh?

Lagian, kayaknya di benak saya nih nggak ada set up untuk jadi pejabat, ntar kalo kaya diributin kekayaannya dari mana, kalo nggak kaya dibilang pejabat kok nggak kaya-kaya.... wah, repot!

Kinoysan







Blog EntryTELEPON ASMA NADIAJun 7, '07 12:46 AM
for everyone

Semalem, Asma Nadia telepon saya hampir seperempat jam. Pembicaraan kami tentang materi penulisan buku baru. Hem, saya dari awal kerja sama dengan Lingkar Pena Publishing House sangat senang dengan penanganan mereka terhadap penulis. Profesional dan manusiawi banget. Asma Nadia pun nggak segan2 untuk jemput bola, maksudnya menjemput penulis yang dianggapnya punya potensi dan membimbing serta membinanya sampai bener2 solid. Di tengah kesibukannya yang luar biasa, masih sempat2nya yach...

Saya dari awal nggak mengira bahwa 'Tahajud Cinta' bisa memiliki track record penjualan yang bagus---bagi yang belum baca, mesti beli jangan sampai kehabisan lho! Rugii banget...

Alhamdulillah, karena ternyata perlakuan Asma Nadia, Andi Biru Laut, dan semua kru Penerbit Lingkar Pena bisa bantu saya berpikir jernih bahwa menulis itu nggak cuman masalah banyak menulis dan menerbitkan, tapi masalah bagaimana buku itu juga laku. Itu sebabnya saya, di tengah keinginan saya untuk produktif menulis juga tetap berusaha hati2 bagaimana membuat tulisan yang disukai dan diterima. Dan saya juga harus banyak berterima kasih kepada semua editor yang mengurusi buku2 saya hingga buku2 tersebut selalu memiliki track rekord penjualan yang bagus.

Jadi, kalau anda banyak menulis dan menerbitkan buku, selain produktif dan rajin nulis, pikirkan juga bahwa buku anda akan laku dan disenangi. Bagaimana caranya? Banyaklah diskusi dan bicara dengan editor, banyaklah ketemu penulis2 lain, banyaklah mendengar bisik-bisik sekitar tentang buku apa yang tengah diperlukan pasar, dan yang nggak boleh ditinggalkan adalah banyak membaca---membaca nggak hanya membaca buku2, tapi membaca lingkungan sekitar dengan segala isinya.

Kinoysan

 

 

 


Blog EntryPENGANGGURAN dan PENULIS PRODUKTIFMay 1, '07 6:34 AM
for everyone

Hari ini bertepatan dengan hari buruh, adalah hari pertama saya jadi ‘pengangguran’. Yach, jadi pengangguran dan total menulis memang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Keinginan tersebut sebenarnya baru akan saya realisasikan akhir tahun 2007, tapi karena sesuatu dan lain hal saya terpaksa mempercepat mengakhiri status saya sebagai pekerja kantoran.

Yang saya rasakan hari ini adalah, saya bisa bangun siang tanpa rasa resah karena harus ke kantor. Saya juga bisa memberesi segala sesuatunya dengan tidak terburu-buru. Ada kelegaan yang benar-benar membuat saya ingin tidur lagi seharian ini. Sayangnya, setelah saya berniat kembali tidur, eeh, kok saya tidak bisa tidur lagi.

Saya lalu melihat kembali semua rencana yang mesti saya lakukan setelah saya jadi pengangguran. Saya merasa lebih bersemangat hari ini untuk menyelesaikan segala sesuatunya. Ternyata, saya merasa bahagia. Sebelumnya seorang penulis senior yang hidupnya total bergantung dari penulisan cerpen dan novel-novel, mengatakan pada saya hidup dari total menulis tidak akan miskin. Saya tidak mau jadi penulis kalau tidak kaya. Yach, dan saya lihat kehidupan keluarga penulis ini sangat layak untuk ukuran orang Indonesia.

Namun karena masih kurangnya ’penghargaan’ dan ’apresiasi’ terhadap penulis di Indonesia, untuk dapat bertahan hidup dengan layak dari penulisan, seorang penulis harus luar biasa produktif. Solusi yang diberikan oleh penulis itu semakin memantapkan niat saya mengikuti jejaknya untuk total menulis.

Kalimat SEORANG PENULIS HARUS LUAR BIASA PRODUKTIF itu terus membenam dalam pikiran bawah sadar saya. Jadi, saya harus seperti itu juga kalau mau bertahan hidup dari tulisan-tulisan semata. Apa ukuran produktif bagi seorang penulis? Bisa sangat relatif dan personal sekali. Yang jelas harus banyak karya yang dipublikasikan dan ia harus mendapat honor dari pekerjaannya itu sehingga dia bisa survive dalam hidupnya.

TAKUT? Iya, itu saya rasakan ketika rencana saya terpaksa harus saya ajukan beberapa bulan sebelumnya. Namun, support dari seluruh keluarga membuatnya langkah saya tegak kembali. Keluarga saya adalah sekutu dalam karir penulisan saya. Mereka adalah orang-orang yang sangat peduli pada saya. Sungguh beruntung saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang demokratis dan segalanya terserah kamu yang penting kamu harus bertanggung jawab terhadap pilihan dan langkah kamu. Termasuk pilihan hidup saya untuk jadi pengangguran dan memilih menulis.

Kemudian juga saya sadari pula satu hal---saya bekerja di kantor dengan jam kerja yang tidak terbatas dan dibawah tekanan yang berat, tapi saya merasa tidak bahagia dan tidak kaya pula dari pekerjaan itu. Kasihan kan?

Saya justru merasa bahagia dan kaya dengan menulis. Seluruh kepentingan dan kesenangan hidup saya lebih banyak dibiayai dari royalti buku-buku saya dan honor-honor berbagai jenis tulisan---yang saya kerjakan dan tulis di sisa-sisa waktu dan energi saya setelah bekerja di kantor.

Dengan logika yang baru saya sadari beberapa waktu lalu, kalau saya total mengerahkan waktu dan pikiran saya untuk menulis, tentu saya lebih bahagia dan mudah-mudahan juga lebih kaya. Jangan salah mengerti lho, kaya yang saya maksud di sini bukan semata-mata kaya dalam bentuk uang, tapi kaya akan banyak hal: fleksibel waktu, banyak teman, banyak relasi, banyak kesempatan untuk berpikir kreatif dan tentu saja mudah mengatur apa saja yang ingin saya lakukan setiap saat.

Alhamdulillah, selama ini buku-buku saya memiliki track rekord penjualan yang bagus; yach meskipun ada juga yang slow moving, tapi itu ternyata dari analisis tim penerbit bukan dari isi atau produksinya yang buruk, tapi karena time launching yang sudah lewat. Namun toh buku itu tetap saja ada penjualannya.

Jadi, buat siapa saja yang sempat baca tulisan saya ini, kalau jadi pengangguran dan hanya bisa menulis--- menulis saja yang produktif. Bisa jadi anda akan lebih bahagia dan lebih kaya dengan menulis daripada anda ribut mencari pekerjaan. Mudah-mudahan dengan pilihan pengangguran ini, saya pun bisa menulis semakin produktif dan semakin baik. Karena kalau tidak, seperti kata penulis senior tadi, kalau tidak ada tulisan yang dimuat atau diterbitkan, dari mana kita dapat uang??

Lalu, apakah pengangguran pasti bisa jadi penulis produktif seperti penulis senior yang saya kenal? Jawabnya kembali pada personal masing-masing.

Kinoysan






Blog EntryTUHAN BEGITU BAIK...Apr 26, '07 8:33 AM
for everyone
Saya menerima telepon teman lama saya. Dan sebagai kawan lama, kami bisa bincang apa saja. Sekian lama bicara, dia baru bilang... dua tahun yang lalu, dia terkena PHK di kantornya, tanpa persiapan apa-apa. Yach, saya ingat terakhir kami bersua adalah tiga tahun yang lalu, dan setelah itu seperti lost contac. Dia bisa phone saya karena nomor saya tetap.

Syok dan bingung ketika itu, katanya. Untuk mencari pekerjaan baru juga nggak mudah. Namun apa kata, begitulah yang terjadi. Sampai kemudian, dia hanya melakukan apa yang menurutnya bisa dilakukan. Berdagang. Tanpa perlu banyak modal dan hanya bermodalkan kepercayaan dari seorang kawan yang juga dikenalnya dengan baik, dia mulai berdagang. Dan... see... dalam waktu dua tahun dia menjadi sangat eksis dan mantap secara finansial. Dia terkejut ketika menyadari bahwa kalau saja dia tidak terkena PHK dua tahun yang lalu, pasti dia nggak sadar kalau dia bisa berdagang dan itu membuatnya jauh lebih bahagia, lebih save secara finansial ketimbang ketika dia bekerja dulu di perusahaan orang, meskipun dia punya status dan jabatan.
Lalu katanya, Tuhan begitu baik... kalimat yang sederhana, tapi langsung melekat dan teringat di hati saya. Yach, Tuhan begitu baik....

Ada banyak peristiwa terlintas di benak saya, tapi sepanjang waktu yang saya alami tentu dengan suka dukanya---saya harus membenarkan kalimat kawan saya itu...
Tuhan begitu baik.

Jadi, ketika hari ini saya merasa  sedih karena ada banyak hal yang di luar perkiraan saya, saya kembali tersenyum setelah menerima teleponnya. Yach, bukankah di dalam setiap sesuatu---setelah ada kesulitan selalu ada kemudahan? Jadi, kenapa saya harus sedih dan tidak tersenyum seperti juga teman saya ini yang terdengar dari nada bicaranya sangat optimis? Tuhan Begitu Baik...? Yach, kalau kita mengira Tuhan baik, maka Dia akan selalu baik karena Tuhan hanyalah memenuhi persangkaan para umatNya.


Kinoysan